Hindari Fitnah
Pernah dengar bahwa fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan? Ya, tentunya sudah familiar di telinga kita dan jauh sebelum kita mendengarnya, hal itu sudah ada di surat Al Baqarah ayat 191. Catatan di ayat tersebut, fitnah diartikan menimbulkan kekacauan. Dalam KBBI, fitnah adalah perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang). Namun mengapa fitnah itu masih lestari sampai sekarang? Misalnya, seseorang memfitnah orang lain, sekelompok orang memfitnah kelompok lain, seseorang memfitnah suatu kelompok atau sebaliknya. Tentu oknum yang menyebar fitnah ke yang lainnya menimbulkan kekacauan.
Menjelekkan orang/ kelompok dilakukan dengan berbagai cara mulai dari mencari-cari kesalahan, berprasangka buruk, dan bahkan sampai menggunjing. Bagaimana bisa sampai hati seseorang/ kelompok memiliki niat jahat dengan melakukan berbagai upaya tersebut? Padahal dalam surat Al Hujurat ayat 12 diperingatkan bahwa (yang artinya) : Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.
Fitnah hendaknya tidak digunakan sebagai landasan dalam menjustifikasi seseorang/kelompok karena kebenarannya diragukan. Kita diperintahkan untuk tidak mempercayai fitnah dan berlaku zalim. Sebagaimana dalam firman Allah pada surat Al Buruj ayat 10 yang artinya: Sungguh, orang-orang yang mendatangkan cobaan (bencana, membunuh, menyiksa) kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan lalu mereka tidak bertobat, maka mereka akan mendapat azab Jahanam dan mereka akan mendapat azab (neraka) yang membakar.
Bila fitnah hanya digunakan sebagai sarana untuk memperoleh kejayaan dan kekuasaan seseorang/ kelompok, mari kita tanya kepada lubuk hati kita, mereka tidak kekal. Lalu mengapa masih saja membangga-banggakan seseorang/ kelompok? Padahal pada surat Ar Rum ayat 31 sampai 32 dijelaskan bahwa (yang artinya):
31. Dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta laksanakanlah salat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah,
32. Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.
Menjelekkan orang/ kelompok dilakukan dengan berbagai cara mulai dari mencari-cari kesalahan, berprasangka buruk, dan bahkan sampai menggunjing. Bagaimana bisa sampai hati seseorang/ kelompok memiliki niat jahat dengan melakukan berbagai upaya tersebut? Padahal dalam surat Al Hujurat ayat 12 diperingatkan bahwa (yang artinya) : Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.
Fitnah hendaknya tidak digunakan sebagai landasan dalam menjustifikasi seseorang/kelompok karena kebenarannya diragukan. Kita diperintahkan untuk tidak mempercayai fitnah dan berlaku zalim. Sebagaimana dalam firman Allah pada surat Al Buruj ayat 10 yang artinya: Sungguh, orang-orang yang mendatangkan cobaan (bencana, membunuh, menyiksa) kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan lalu mereka tidak bertobat, maka mereka akan mendapat azab Jahanam dan mereka akan mendapat azab (neraka) yang membakar.
Bila fitnah hanya digunakan sebagai sarana untuk memperoleh kejayaan dan kekuasaan seseorang/ kelompok, mari kita tanya kepada lubuk hati kita, mereka tidak kekal. Lalu mengapa masih saja membangga-banggakan seseorang/ kelompok? Padahal pada surat Ar Rum ayat 31 sampai 32 dijelaskan bahwa (yang artinya):
31. Dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta laksanakanlah salat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah,
32. Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.
Comments
Post a Comment